Nasional
Internasional
Ekonomi
Kuliner
Budaya
Sport
Olahraga
Teknologi
Lifestyle
Investigasi
Lingkungan
Semarang
Tempo Doloe
Wisata
Kuliner
Property
HEADLINE

Search

Toponimi yang Hilang Banyak Catatan yang Disamarkan

Toponimi yang Hilang Banyak Catatan yang Disamarkan

Toponimi yang Hilang, Banyak Catatan yang Disamarkan

Kolonial membelokkan sejarah dengan beragam cara. Pengelolaan kekuasaan dilakukan melalui strategi politik pecah belah yang secara perlahan membungkam budaya asli masyarakat Jawa.

Kekuasaan absolut menggeser sistem monarki dinasti kerajaan Jawa. Konsep mitologi dirumuskan agar diyakini masyarakat sebagai bagian dari strategi propaganda. Mistisme dijadikan alat efektif untuk menguasai pola pikir dan sumber daya manusia sebelum akhirnya kolonial menguasai teritorial Jawa secara penuh.

Feodalisme tumbuh subur sebagai bentuk pengungkungan masyarakat Jawa. Pola pikir masyarakat dibuat semakin kecil hingga muncul krisis kepercayaan terhadap sistem monarki itu sendiri.

Persoalan negeri ini disebut berawal dari konflik warisan kekuasaan. Perebutan tahta antara anak permaisuri dan anak selir memunculkan intrik politik yang berdampak pada stabilitas rakyat di luar pagar kerajaan.

Propaganda, konspirasi, dan strategi kekuasaan dimainkan berdasarkan kekuatan finansial para bangsawan yang memperebutkan hak atas tahta kerajaan. Di titik inilah pihak luar mulai melakukan intervensi dan mengambil keuntungan dari konflik internal kerajaan Jawa.

Kekuatan persekutuan kolonial membuat mereka mampu mensejajarkan derajat dan mengubah tatanan kekuasaan. Sistem monarki absolut perlahan melemah karena kepentingan asing yang masuk ke dalam lingkaran kekuasaan.

Berbagai cerita imajiner kemudian berkembang dan membentuk ketakutan masyarakat untuk meluruskan sejarah berdasarkan manuskrip yang ada. Hal-hal mistis yang sebenarnya hanya dongeng justru dipercaya sebagai bagian dari sejarah.

Semarang sendiri pada abad awal telah memiliki catatan sejarah kekuasaan. Kadipaten Semarang disebut bermula dari Tirang Amper sebagai wilayah kadipaten pertama.

Sementara Bubakan menjadi pusat pemerintahan Asamarang. Ki Ageng Pandanaran II dikenal sebagai Jurunata yang kemudian menjadi Adipati kedua dan memusatkan pemerintahan di Bubakan setelah Tirang Amper dianggap tidak lagi efektif.

Nama Bubakan berasal dari kata “bubak” yang berarti membuka atau mengawali. Sebelum dikenal sebagai Semarang atau Asamarang, wilayah tersebut dahulu disebut Pegisikan atau kawasan pantai yang membentang dari Bukit Simongan hingga Tirang Amper.

Kawasan tersebut menjadi jalur ekonomi laut penting pada masa Medang Kamulan atau Mataram Kuno dan juga tercatat dalam perjalanan Muhibah Laksamana Cheng Ho.

Dalam catatan sejarah tersebut, sejumlah awak kapal Cheng Ho yang sakit diturunkan di wilayah perbatasan Semarang dan kemudian menetap di kawasan Bukit Simongan.

Ki Ageng Pandanaran II sendiri dikenal sebagai seorang syahbandar sekaligus saudagar kaya yang membangun kekuatan ekonomi melalui jalur perdagangan laut.

Dari perjalanan misi politik dan perdagangan Cheng Ho, lahirlah komunitas multietnik Tionghoa di kawasan Bukit Simongan termasuk keberadaan Kelenteng Sam Poo Kong.

Mbah Juru Mudi yang merupakan salah satu awak kapal Cheng Ho disebut menetap di Simongan dan mengajarkan berbagai hal terkait kedaulatan pangan. Ia juga dikenal sebagai pemeluk Islam seperti Laksamana Cheng Ho.

Di kawasan tersebut kemudian berdiri surau atau tempat ibadah bercorak budaya Tionghoa yang menjadi bagian dari perkembangan budaya masyarakat Semarang kala itu.

Pada abad ke-17, VOC sebagai penguasa Hindia Belanda mulai membagi wilayah berdasarkan etnis, seperti etnis Melayu, Arab, Tionghoa, dan pribumi.

Masyarakat Tionghoa ditempatkan di sepanjang bantaran Kali Semarang. Bukti peninggalannya masih terlihat dari keberadaan sejumlah kelenteng di kawasan Pecinan.

Toponimi di kawasan Pecinan juga lahir dari aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa saat itu. Nama-nama gang seperti Gang Warung, Gang Lombok, Gang Besen, hingga Gang Pinggir menjadi penanda aktivitas perdagangan dan kehidupan sosial masyarakat pada masa lampau.

Kategori: tempo doloe