Nasional
Internasional
Ekonomi
Kuliner
Budaya
Sport
Olahraga
Teknologi
Lifestyle
Investigasi
Lingkungan
Semarang
Tempo Doloe
Wisata
Kuliner
Property
HEADLINE

Search

Mengangkat Potensi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pasar Tradisional

Mengangkat Potensi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pasar Tradisional

Mengangkat Potensi Ekonomi Kerakyatan Berbasis Pasar Tradisional

Ekonomi mikro yang saat ini mengalami kelesuan transaksi menjadi persoalan yang perlu dicari solusinya. Kondisi politik dan ekspansi budaya digitalisasi berimbas pada sektor di segala bidang, salah satunya perputaran uang berbasis sosial kalangan bawah.

Kebijakan pemerintah yang membangun pasar modern justru tidak menjadi solusi ekonomi rakyat berbasis pasar tradisional. Kondisi tersebut melahirkan persoalan yang hingga saat ini belum menemukan titik temunya. Beragam tuntutan atas lesunya jual beli mempengaruhi pendapatan pedagang hingga memicu konflik sosial.

Hal inilah yang melemahkan aktivitas ekonomi kerakyatan. Transaksi serta interaksi masyarakat menjadi abai terhadap nilai-nilai yang bersifat konvensional.

Strategi dengan membuat event bersifat ekonomi kerakyatan dengan sentuhan entertainment yang melibatkan pegiat seni, komunitas, dan perusahaan yang menjual produk pasar pun belum juga mampu mengangkat pendapatan dan minat masyarakat.

Jika ditilik dari konstruksinya, pasar modern sebenarnya sudah cukup menunjang dari sisi kenyamanan ruang, kebersihan, penataan, hingga pemetaan produk yang tertata rapi. Artinya sebagai syarat pasar ramah lingkungan sudah lebih dari cukup. Namun, letak kesulitan dan problematikanya justru masih menjadi pertanyaan.

Branding produk khas sebagai sentra oleh-oleh dinilai mampu menarik minat wisatawan untuk berbelanja sekaligus menikmati pasar tradisional sebagai “pasar kangen”.

Sinergi antara pedagang konvensional dengan lembaga pemerintah seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian Kebudayaan, maupun komunitas seni tradisional dapat membentuk pasar tematik yang mampu mengangkat penjualan sekaligus menjadi ruang wisata baru di dalam pasar.

Pasar tradisional dapat menghadirkan produk jadul yang mulai hilang, kuliner khas daerah, hingga pertunjukan budaya yang mampu menghidupkan kembali potensi penjualan dengan sentuhan seni, budaya, dan pariwisata.

Unsur-unsur terkait diharapkan mampu menghidupkan kembali ruang interaksi sosial di dalam pasar, tanpa harus apriori terhadap perkembangan pasar digital. Kemudahan sistem elektronik tetap dapat diterapkan dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami.

Pelaku usaha, pemangku wilayah perdagangan skala kecil, UMKM, hingga usaha rumahan berbasis konsinyasi dapat dilibatkan sebagai kontributor produk ekonomi kreatif. Kampung-kampung tematik juga bisa menjadi partner promosi pasar dan menciptakan kompetisi dagang dengan produk skala besar, bahkan menarik investor sebagai mitra bisnis tanpa meninggalkan konsep konvensional.

Entertainment menjadi bagian penting dalam strategi marketing pasar tradisional. Sajian live musik, tari tradisional, ruang bermain anak yang edukatif, hingga event seperti kirab budaya, festival budaya, dan lomba tari dapat menjadi penguat daya tarik pasar pada momentum tertentu.

Apakah langkah dan strategi tersebut efektif? Kemauan, tekad, dan kerja sama antar pelaku usaha mikro menjadi kunci utama dalam merealisasikan konsep pasar tradisional berbasis seni budaya tersebut.

Meskipun tidak berlangsung secara kontinu, agenda reguler per semester maupun tahunan dapat menjadi langkah awal terciptanya pasar tradisional dengan sentuhan seni budaya.

Sebagai bagian dari upaya menghadirkan sesuatu yang baru, konsep ini diharapkan mampu menjawab keraguan apakah pasar tradisional masih mampu bersaing dengan pasar digital.

Gunung W Mahessa

Kategori: umkm