SEMARANG DAN CATATAN SEJARAH
: Sebagai catatan yg tertinggal di meja Penguasa...
Gunung W Mahessa
Kyai Sholeh Darat adalah Guru KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Achmad Dahlan juga RA. Kartini.
Ada sisi sejarah yg tidak pernah tersampaikan hingga saat ini, entah sengaja disembunyikan atau memang diabaikan.
Bahkan penamaan Jalan Kyai Saleh tidaklah seperti yg diharapkan sebagian kalangan, tentunya saya pribadi kurang sepakat atas penamaan jalan tersebut, hendaknya Pemerintah pada saat itu perlu melakukan kajian kajian sejarah mengenai Identitas Mbah Kyai Sholeh Darat.
Oya sebagai catatan kecil yg berdampak pada perjalanan sejarah panjang pada era dimana RA. Kartini hendak belajar dan berguru kepada Kyai Sholeh Darat, RA Kartini menginap di Hotel Oeasia belakang Hotel D' Paviliun atau yg kita kenal sebagai Hotel Dibya Puri.
Ketertarikan RA Kartini berguru kepada Beliau Kyai Sholeh Darat karena konsep penggunaan hurup Arab Pegon sebagai bagian dari strategi perjuangan agar tidak terbaca dan dipahami oleh Kolonial pada saat itu.
Kembali pada Toponim penamaan Jalan Kyai Saleh, (harus segera diluruskan atas penamaan tersebut).
Sebelum penamaan nama Jalan Kyai Saleh, dahulu jalan tersebut bernama Jalan Ki Ageng Bergota.
Beliau pemilik Tanah Bergota sebelum menjadi area pemakaman dan itu masih berbentuk Bukit di sekitar Lautan Semarang atau yg disebut juga bagian dari semenanjung Jazirah.
Pertanyaannya apakah Ki Ageng Pandanaran I beliau yg dimakamkan di Mugas pemilik hamparan Tanah Bergota?
Mari kita kaji dan jadikan topik ini untuk mendapatkan Anggaran besar menilisik sejarah panjang Semarang yg berkaitan dengan Sejarah Ki Ageng Pandanaran I juga Peran penting Kyai Sholeh Darat yg mendapat Lisensi dari Mekah sebagai Guru Besar dari Tanah Nusantara.
Salam Literasi...
Kembalikan Sejarah sesuai Nama dan Sejarahnya....


