SEMARANG – Pernikahan Josephin Nintiarna dan Calvin Jayanto Purba di kawasan Kaligawe, Semarang, Minggu (6/9/2026), berlangsung unik dan penuh nuansa seni tradisi. Rangkaian acara dikemas dengan pertunjukan teatrikal yang menggambarkan kehidupan nelayan dalam mengarungi samudra.
Mulai dari dekorasi hingga prosesi penyambutan besan, suasana kehidupan masyarakat nelayan begitu terasa. Laut dan perjalanan mengarungi samudra menjadi simbol perjalanan Josephin dan Calvin dalam membangun bahtera rumah tangga.

Konsep tersebut digagas oleh yang punya Gawe Edy Djohar orang tua dari pihak perempua, petani ikan sekaligus seniman dan Presiden KOWE (Komunitas Kaligawe), sebuah wadah seni dan kreativitas warga Semarang, khususnya masyarakat Kaligawe.
Menurut Edy Djohar, tradisi, kesakralan, dan seni merupakan satu kesatuan yang mampu menggambarkan harmoni dalam sebuah acara pernikahan. Ia menegaskan, kehadiran seni dalam rangkaian acara tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi makna maupun kesakralan prosesi pernikahan.
Prosesi penyambutan besan semakin menarik dengan keterlibatan para seniman KOWE yang memerankan adegan teatrikal. Pertunjukan tersebut dibuat sangat membumi, dekat dengan kehidupan masyarakat, namun tetap mempertahankan kesakralan tradisi pernikahan.

Suasana semakin khidmat ketika puisi menggema dalam prosesi untuk Josephin dan Calvin. Rangkaian kata menjadi doa dan harapan agar keduanya mampu mengarungi kehidupan rumah tangga layaknya nelayan mengarungi samudra—melewati gelombang, menghadapi badai, dan tetap berlayar menuju tujuan bersama.
Pernikahan Josephin Nintiarna dan Calvin Jayanto Purba pun bukan hanya menjadi momentum penyatuan dua keluarga, tetapi juga menjadi ruang bagi seni dan tradisi untuk hadir di tengah masyarakat.
Melalui kreativitas KOWE, tradisi tidak sekadar dipertahankan, tetapi dihidupkan melalui seni yang dekat dengan kehidupan warga. Sebuah pernikahan yang mempertemukan cinta, tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat Kaligawe dalam satu panggung yang penuh makna.


